WELCOMETO MY BLOG

Minggu, 24 Maret 2013

Askep ”SECTIO CAESAREA”


KONSEP DASAR PENYAKIT
”SECTIO CAESAREA”

A.    Definisi

Sectio Caesarea adalan suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. (Moctar. R, 1998).

B.     Indikasi

  1. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
  2. Panggul sempit
  3. Disproporsi sevalo pelvic yaitu ketidak seimbangan antara ukuran kepala dan pangul
  4. Ruptur uteri
  5. Partus lama
  6. Partus tidak maju
  7. Distosia sereviks
  8. Preeklamsia, eklamsia dan hipertensi
  9. Mal presentase janin :
a.       Letak lintang
b.      Letak bokong
c.       Presentase dahi dan muka
d.      Presentase rangkap
e.       Gameli


C.    Jenis-Jenis Operasi Sectio Caesarea

  1. Sectio Caesarea Transperitonealisis
a.       Sectio Caesarea klasik atau corporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri.
 Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.
1)      Kelebihan
a)      Mengeluarkan janin lebih cepat
b)      Tidak menimbulkan komplikasi kandung kemih tertarik
c)      Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
2)      Kekurangan
a)      Infeksi mudah menyebar secara intraabdominak karena tidak ada reperitonelisasi yang baik
b)      Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptur uteri spontan.
b.      Sectio Caesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim.
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.
1)      Kelebihan
a)      Penjahitan luka lebih mudah
b)      Penutupan lukan dengan reperitonealisis yang baik
c)      Tupang tindih peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
d)     Perdarahan kurang
e)      Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang / lebih kecil.
2)      Kekurangan
a)      Luka dapat menyebar ke bawah, kiri dan kanan
b)      Keluhan pada kandung kemih postoperatif tinggi
  1. Sectio Caesarea Ekstraperitonealisis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.

D.    Komplikasi

  1. Infeksi puerperal (nifas)
Ringan     :    dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
Sedang     :    dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung
Berat        :    dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik
  1. Perdarahan disebabkan adanya :
a.       Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
b.      Atoni uteri
c.       Perdarahan pada plasenta
  1. Luka pada kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonelisis terlalu tinggi
  2. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang













ASUHAN  KEPERAWATAN  TEORITIS

A.    Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah,kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien baik fisik, mental, sosial dan lingkungan. (Effendy, 1995)

1.      Pengkajian data dasar klien (Doengus, 1998)

Riwayat :
-       Tinjau kembali catatan perinatal dan intra operasi : tinjau kembali indikasi untuk kelahiran sesarea.
-       Catat jenis dari anestesia intra operatif dan obat-obat yang diberikan dalam intra operatif dan dalam masa penyembuhan / pemulihan jangka pendek ; catat kehilangan darah selama menjalani prosedur pembedahan.
-       Respon klien dan keluarga terhadap pengalaman kelahiran dapat menggambarkan kekecewaan.
-       Kondisi dari bayi yang baru lahir atau umur kehamilan pada kelahiran dapat perlu dirawat ke bagian unit perawatan intensif neonatal (NICU).
-       Keluhan gangguan kenyamanan disebabkan oleh trauma pembedahan atau setelah nyeri.     

2.       Pemeriksaan fisik :

1.    Fundus akan benar-benar berkontraksi, akan tetap berada pada umbilicus selama kira-kira 7 hari post partum dan selanjutnya akan infolusi satu jari per hari.
2.    Lochia sedang dan bebas dari bekuan-bekuan yang banyak, aliran yang terakhir lebih lama melalui kelahiran caecarea dari pada melalui kelahiran vagina.
3.    Balutan / verban abdominal kurang sedikit noda / kotor atau tetap kering dan utuh.
4.    Pemasangan kateter kemungkinan dipasang selam 24 jam dan akan menglirkan urine jernih dan kekuning-kuningan.
5.    Bunyi usus kemungkinan tidak ada, redub atau berbedah.
6.    Kateter parenteral apabilah digunakan, sebaiknya infuse bebas dari tanda-tanda infeksi.
7.    Mulut kemungkinan kering, menampilkan efek dari obat-obatan pre-operasi dan anastesi.
8.    Abdomen lembut dan tidak tagang.
9.    Larutan pencuci lock heparin kemungkinan digunakan sebagai pemberian antibiotik.

3.      Pemerikasaan Diagnostik :

1.    Pemeriksaan darah lengkap dan Hb, untuk mengkaji perubahan dari tingkat pre-operasi dan menilai kehilangan darah selama pembedahan.
2.    Darah vagina, dan kultur lochia dapat diambil.
3.    Urinalisis dengan kultur dan sensitifitas kemungkinan diambil untuk memastikan infeksi saluran perkemihan.

4.      Prioritas keperawatan :

1.    Kaji status fisik klien dan tingkat kenyamanan.
2.    Mencegah komplikasi post operasi.
3.    Memudahkan klien meningkatkan rasa tanggung jawab untuk merawat dirinya dan bayinya.
4.    Tingkatkan respon emosional positif terhadap kelahiran dan untuk peran orang tua.

B.     Diagnosa keperawatan.

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan/kesimpulan yang diambil dari pengkajian tentang status kesehatan klien.
1.      Diagnosa keperawatan      :  Perubahan dalam rasa nyaman, nyeri akut.
Tujuan umum                    : Gangguan kenyamanan dapat dicegah atau berkurang.

Intervensi
Rasionalisasi
1.    Kaji fisiologi dan lokasi ketidaknyamanan. Catat tanda-tanda verbal dan non verbal.





2.    Berikan informasi tentang nyeri dan bantu pasien melakukan teknik distraksi dan teknik relaksasi.

3.    Nilai tekanan darah dan denyut nadi, catat perubahan tingkah laku. Bedakan kurang istirahat yang berhubungan dengan shock dari yang berhubungan dengan nyeri.
4.    Ubah  posisi pasien, kurangi rangsangan dan lakukan pengosokan punggung. Anjurkan pasien melakukan teknik relaksasi.
1.     Klien tidak dapat mengungkapkan keluhan tentang nyeri dan ketidaknyamanan ; walaupun nyeri otot post operasi mungkin diharapkan, dapat menampilkan perkembangan komplikasi.
2.     Menolong mengurangi nyeri, dihubungkan dengan nyeri agar pasien lebih memahami dan meningkatkan rasa nyaman pasien.
3.     Nyeri dapat menimbulkan kurang istirahat dan peningkatan dalam tekanan darah dan denyut nadi


4.     Relaksasi nyeri dan pengalihan dari sensasi nyeri  

2.         Diagnosa keperwatan   :  Resiko injuri berhubungan dengan lamanya kelahiran atau  rangsangan oksitoksin berlebihan.
       Tujuan umum                :  Komplikasi dicegah atau dikurangi ; tanda-tanda vital, dan pemeriksaan laboratorium dalam batas normal              
Intervensi
Rasionalisasi
1.      Tinjau kembali riwayat prenatal dan postnatal terhadap faktor-faktor yang mendukung klien terhadap komplikasi.











2.      Monitor tekanan darah, nadi dan suhu. Catat kedinginan dan kelembaban kulit, kelemahan atau nadi kecil dan perubahan perilaku.



3.      Anjurkan pergerakan dini dan penghindaran pembentukan gas makanan dan sayuran karbonat.

4.      Palpasi kandung kemih, kemungkinan pengosongan berkala setelah pengangkutan kateter.
5.      Nilai adanya intensitas sakit kapala selama perubahan dari posisi recumbent ke posisi berdiri selama 24 jam setelah anasthesi block subarachroid.
6.      Beri analgetik setia 3-4 jam, tingkatkan dari jadwal intramuskuler dan subkutan ke jadwal oral.
        
1.      Adanya faktor-faktor resiko seperti kelelahan miometrial, ketegangan uterus yang berlebihan, rangsangan oksitoksin yang lama, anastesi umum, atau bawaan tromboplebitis prerenal klien sangat rentan terhadap komplikasi post opersi. Sayatan klasik ke dalam uterus dihubungkan dengan kehilangan darah intra operasi yang banyak dari pada sayatan ke dalam segmen uterus bagian bawah.
2.      Peningkatan takanan darah dapat  menandakan berkembangnya atau berlanjutnya status hipersesitive  magnesium sulfate atau pengobatan anti hipertensi, hipotensi dan takikardi bisa mengambarkan dehidrasi dan hipovolemia.
3.      Tingkatkan peristaltic untuk mengurangi ketidaknyamanan dari penumpukan gas dimana selama 3 hari setelah kelahiran sesarea.
4.      Membantu mencegah ketidak nyamanan berhubungan dengan ketidaknyamanan yang berlebihan.
5.      Tiap sakit kepala kemungkinan dangan tusukan spinal dan kemungkinan disebabkan oleh mengalirnya cairan serebrospinal.

6.      Meningkatkan kenyamanan dimana memperbaiki status spikologis dan menambah pergerakan. 
                   
3.         Diagnosa keperawatan  :  Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan anastesi.
       Tujuan umum             :    Frekuensi pernapasan dalam batas normal, bunyi paru normal dan vesikuler terdengar.

Intervensi
Rasionalisasi
1.      Kaji frekuensi nadi dan pernapasan

2.      Pertahankan jalan udara klien dengan miringkan kepala.
3.      Lakukan auskultasi suara napas.






4.      Observasi frekwensi dan kedalaman pernapasan.


5.      Pantau tanda-tanda vital setip 4 jam.


6.      Letakan klien pada posisi yang sesuai tergantung pada kekuatan pernapasan.




7.      Lakukan latihan gerak sesegera mungkin pada klien yang reaktif.

8.      Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan.
1.  Tachicardy dan peningkatan napas dapat menandakan hypoksia.
2.  Mencegah obstuksi jalan napas.

3.  Kurangnya suara napas adalah indikasi adanya obstruksi oleh mucus atau lidah dan dapat dibenahi dengan mengubah posisi ataupun pengisapan. Berkurangnya suara pernapasan diperkirakan telah terjadimya atelektasis.
4.  Dilakukan untuk memastikan efektivitas pernapasan sehingga upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan.
5.  Meningkatnya pernapasan, takikardi dan bradikardi menunjukan kemungkinan terjadinya hipoksia.
6.  Elevasi kepala dan posiisi miring akan mencegah terjadinya aspirasi muntah, posisi yang benar akan mendorong ventilasi pada lobus paru menurunkan tekanan diafagma.
7.  Ventilasi dalam yang aktif membuka alveolus, mengeluarkan sekresi dari sistim pernapasan.
8.  Dilakukan untuk meningkatkan pengambilan oksigen pengeluaran gas tersebut.


4.      Diagnosa keperawatan      :  Resiko infeksi berhubungan dengan
Tujuan umum  :    Sel darah putih, suhu, nadi, tetap dalam batas normal. Penyembuhan insisi terjadi dengan tujuan pertama ; uterus tetap  lembut dan tidak empuk dan lochia bebas dari bau.
Intervensi
Rasional
1.    Angkat balutan verban abdomen sesuai indikasi



2.    Bantu sesuai keperluan dengan mengangkat benang kulit

3.    Anjurkan klien untuk mandi air hangat setiap hari.



4.    Berikan oxytoksin atau preparat ergometrium, beri infuse oksitoksin yang sering dianjurkan secara rutin untuk 4 jam setelah prosedur pembedahan.
5.    Ambil darah vaginal dan kultur urine bila infeksi dicurigai.







6.    Berikan infus antibiotik profilaksis.     
1.    Memudahkan insisi untuk kering dan meningkatkan penyembuhan setelah 24 jam pertama menjalani prosedur pembedahan.
2.    Insisi biasanya sudah cukup sembuh untuk pengangkatan benang pada 4-5 hari setelah prosedur pembedahan.
3.    Mandi sering diijinkan setelah hari ke-2 menjalani prosedur kelahiran caesarea dapat meningkatkan kebersihan dan dapat merangsang sirkulasi dan penyembuhan luka
4.    Mempertahankan kontraksi miometrial oleh karena menurunya penyebaran bakteri melalui dinding uterus, membantu dalam pengeluaran bekuan dan selaput.
5.    Bekterimial lebih sering pada ibu yang mengalami ruptur membrane untuk 6 jam atau lebih lama dari pada klien yang mempunyai membran tetap utuh sebelum menjalani kelahiran caesarea, pemasangan kateter tidak tetap, mempredisposisi klien untuk kemungkinan infeksi.
6.    Menurunkan / mengurangi kemungkinan endometritis post partum sebagaimana halnya dengan komplikasi seperti abses insisi atau trombophlebitis pelvis.   
    
5.      Diagnosa keperawatan      :  Perubahan eliminasi usus, konstipasi
Tujuan umum      : Bunyi usus ada, pola eliminasi normal ditetapkan kembali.
Intervensi
Rasionalisasi
1.    Auskultasi bunyi usus di empat kuadran abdomen setiap 4 jam setelah kelahiran.


2.    Palpasi abdomen, catat ketegangan atau ketidaknyamanan.


3.    Catat pengeluaran flatus atau sendawa
4.    Pertahankan tingkat hidrasi dengan cairan oral saat bunyi usus ada

5.    Hindari pemberian minuman yang sangat panas atau dingin dan yang mengandung karbohidrat  kepada ibu.
6.    Anjurkan latihan kaki dan peregangan abdomen, meningkatkan pergerakan dini.



7.    Berikan cairan oral ketika bunyi usus ada, tingkatkan dari cairan jernih ke cairan lengkap.

8.    Berikan diet yang tetap protein untuk 24-48 jam pertama setelah kelahiran caesarea saat peristaltic.   
1.      Biasanya bunyi usus tidak terdengar di hari pertama setelah prosedur pembedahan, pusing/pingsan di hari ke dua dan aktifitas di hari ke tiga.
2.      Distensi atau ketidaknyamanan menandakan pembentukan gas dan penumpukan atau kemungkinan ileus peralitik.
3.      Menandakan pergerakan rectum.
4.      Hidrasi membantu mencegah penyerapan yang berlebihan dari saluran intestinal dan mencegah konstipasi.
5.      Semua penyumbang pembentukan gas.


6.      Pergerakan yang berkembang maju setelah 24 jam setelah kelahiran caesarea meningkatkan peristaktik dalam pengeluaran serta menghilangkan atau mencegah nyeri gas.
7.      Klien biasanya dapat menerima cairan oral dengan baik setelah prosedur pembedahan jika pergerakan usus ada.
8.      Membentu mencegah atau memperkecil pembentukan gas.   
 




6.         Diagnosa keperawatan    :  Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan pasca melahirkan caesarea.
Tujuan umum      :    Mengatasi kurang pengetahuan dan kurang informasi.
Intervensi
Rasionalisasi
1. Kaji tingkat pengetahuan ibu dan keluaga ,dan identifikasi area kebutuhan belajar. Tentukan strategi yang cocok untuk belajar .dokumentasikan aktifitas ibu dan reaksi.
2. Kaji status fisik ibu, merencanakan kelompok/individu mengikuti pemberian obat-obatan atau klien berada dalam keadaan nyaman dan istirahat.

3. Kaji status spikologi dan respon terhadap kelahiran caesarea dan peran menjadi ibu.

4. Kaji kesiapan untuk belajar.


5. Berikan infirmasi yang berhubungan dangan perawatan diri sendiri.

6. Berikan infirmasi yang berhubungan dabgam perawatan bayi, anjurkan untuk mendemonstrasikan kembali.
7. Berikan pengajaran pulang mengenai kemungkinan komplikasi


8. Berikan informasi yang berhubungan dengan pemeriksaan tindak lanjut post partum.
 
1.   Membantu ibu untuk menentukan rencana dalam memperoleh informasi.



2.   Ketidaknyamanan berhubungan dengan usus, kandung kemih atau insisi yang biasanya kurang berat setelah post operasi 3-6 hari, kemungkinan ibu berkonsentrasi lebih lengkap pada pembelajaran.
3.   Kecemasan berhubungan dangan kemampuan ibu untuk merawat dirinya sendiri dan anaknya.
4.   Selama hari 2-3 post partum, lkien biasanya menerima untuk belajar.
5.   Memudahkan kemandirian, membantu mencegah infeksi dan meningkatkan penyembuhan.
6.   Membantu ibu / keluarga dalam pengawasan tugas yang baru.


7.   Dapat mengetahui perdarahan atau gangguan dalam penyembuhan memerlukan penilaian selanjutnya oleh dokter.
8.   Seringkali penilaian post partum bagi ibu dengan kelahiran seksio caesarea dijadwalkan pada 1 minggu sampai sesuai kebutuhan.     




7.      Diagnosa keperawatan      :  Kurangnya perawatan diri.
Tujuan umum      :      Kebutuhan klien dan bayi terhadap kenyamanan dan kebersihan dasar terpenuhi.
Intervensi
Rasionalisasi
1. Kaji beratnya dan lamannya ketidaknyamanan.






2. Kaji status spikologis





3. Kaji jenis anestesis, catat setiap instruksi atau protocol mengenai pengaturan.

4. Ganti posisi klien setiap 1-2 jam, bantu klien dalam latihan pernapasan, pergerakan dan latihan kaki



5. Berikan bantuan seperlunya dengan kebersihan (perawatan mulut, mandi, menggosok belakang, perawatan perineal).
6. Tawarkan pilihan bila mungkin catat pilihan minuman, penjadwalan mandi.

7. Berikan kesempatan kepada ibu untuk berinteraksi dan memeluk bayinya. Bantu seperlunya.

8. Monior kemajuan dalam peningkatan tanggung jawab untuk merawat diri dan bayi serta dalam motivasi psikologi.
1.  Intensitas/kehebatan nyeri mempunyai respon emosional dan tingka laku sehingga kemungkinan ibu tidak mampu mempokuskan pada aktifitas perawatan diri sampai kebutuhan fisik terhadap kenyamanan terpenuhi.
2.  Pengalaman nyeri fisik kemungkinan ditambah dengan keprihatinan emosional yang mempengaruhi keinginan dan motivasi ibu untuk menerima kemandirian.
3.  Ibu yang menjalani anastesi spinal untuk berbaring datar tanpa bantal untuk 6-8 jam setelah pemberian anastesi.
4.  Membantu mencegah komplikasi pembedahan seperti phlebitis atau pneumonia yang dapat terjadi ketika tingkat ketidaknyamanan dapat mempengaruhi penggantian posisi normal klien.
5.  Meningkatkan harga diri, meningkatkan perasaan aman dan nyaman.

6.  Memungkinkan beberapa kemandirian sekalipun ibu tergantung pada balutan professional.
7.  Bantuan dalam babarapa interaksi pertama atau hingga keteter intervena diangkat, mencegah ibu dari gangguan perasaan atau ketidaknyamanan.
8.  Melalui hari ke 2-3 post partum ibu bergerak dari fase talking in ke fase talking hold.


 
C.    Perencanaan

Perencanaan merupakan tahap selanjutnya setelah pengkajian dan penentuan diagnosa keperawatan.

D.    Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan/ intervensi sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat dengan menerapkan rencana tersebut dalam tindakan nyata.

E.     Evaluasi
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sisitimatis dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.























ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. R.U DENGAN POST OPERASI SECTIO CAESAREA HARI KE-3 DI IRINA D ATAS
RSU Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO

A.    Pengkajian

      Biodata identitas
1.      Identitas pasien
            Nama                         : Ny. R.U
Umur                         : 19 tahun
Jenis Kelamin            : Perempuan
Alamat                       : Banjer Linkungan V
Agama                       : Islam
Suku/ Bangsa            : Gorontalo/ Indonesia
Pendidikan terakhir   : SMP
Pekerjaan                   : -
No. Med. Reg           : 111966
Tanggal MRS            : 27-7-2007 Jam 10.30 WITA
Tanggal Operasi        : 28-7-2013 Jam 14.00 WITA
Tanggal Pengkajian   : 1-8-2013 Jam 08.00 WITA
Diagnosa medis         : G1P0A0. 19 tahun, hamil 40-41 minggu janin intra uterin tunggal hidup. Letak kepala + gawat janin.
2.     Identitas suami
            Nama                         :  Tn. R.B
            Umur                         :  21 tahun
            Pendidikan Terakhir  :  STM
            Pekerjaan                   :  Karyawan toko
            Agama                       :  Islam
            Suku/ Bangsa            : Gorontalo/ Indonesia
            Alamat                       :  Kelurahan Banjer Lingkungan V

B.     Pengkajian

1.     Keluhan utama.
      Rasa nyeri pada daerah luka operasi
2.     Riwayat keluhan utama.
Nyeri pada daerah luka operasi dibagian perut (region umbilicalis) dirasakan setelah dilakukan operasi pada tanggal 28 -07 – 2013. Nyeri dirasakan pasien melakukan pergerakan atau mobilisasi, nyeri meningkat saat pasien mengejan dan menurun saat pasien berbaring. Nyeri terlokalisasi pada daerah luka operasi, tidak difus (tidak menyebar), dan berada pada skala 5 (sedang. Durasi nyeri sekitar 1-2 menit, hilang timbul.
      Riwayat kesehatan keluarga.
            Di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit Hypertensi, jantung, paru-paru, ginjal, hati, diabetes.
3. Riwayat reproduksi
Menarche        : 13 tahun
Siklus haid      : Teratur
Lamanya haid : 3-4 sehari
Banyaknya      : 3x ganti pembalut
4. Riwayat kehamilan
G1 P0 A0 19 thn, hamil 40-41 minggu
HPHT                : 11-10-2012
HTP                   : 18-7-2013
ANC                  : 4x (di Puskesmas)
TT                      : 2x (di Puskesmas)
5.    Status obstetrikus: P1 A0
6.    Riwayat persalinan sekarang
            Kala 1 :  Sejak tanggal 27-07-2013 jam 10.30 pasien merasakan nyeri perut bagian bawah melingkar sampai belakang, nyeri dirasakan hilang timbul, pengeluaran lendir bercampur darah lewat jalan lahir. Dan tanggal 28/7/2013 jam 14.10 di putuskan untuk SC.
            Kala 2  :  Jam 10.25 bayi lahir section caesarea dengan letak kepala. Lahir bayi perempuan tanggal 28/7/2007 jam 14.25 WITA, BBL 2850 gr, PBL 47 cm, AS 6-7.
            Kala 3  : Plasenta lahir lengkap dengan selaput, BPL 500 gr.
            Kala 4  :   Keadaan umum: baik, kontraksi uterus baik.
Perdarahan    : 500 cc
Diuresis         : 200 cc
Total              : 700 cc
Mulai SC       : 14.10 WITA tanggal 28/7/2013
Selesai           : 15.35 WITA
Total              : 26 jam
7.                Riwayat KB
            Pasien belum pernah menggunakan KB.
8.    Rencana KB
            Pasien berencana untuk menggunakan KB suntik.
9.    Riwayat Psikososial
            Pasien merasa senang menerima bayi yang baru lahir walaupun harus melalui operasi section caesarea dan bertanya-tanya bagaimana caranya menyusui bayi karena merasa canggung/kaku.
            Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga/masyarakat adalah baik, pasien aktif mengikuti kegiatan masyarakat. Pasien tidak mengkhawatirkan pembayaran di rumah sakit karena pasien terdaftar sebagai peserta Gakin.


C.  14 kebutuhan dasar manusia menurut Virginia Hendersen
1)     Pola napas.
           Sebelum sakit   : Pasien tidak mengalami gangguan pernapasan
           Saat dikaji        : Pasien tidak mengalami gangguan pernapasan frekwensi 20x/ mnt.
2)    Pola makan/minum
           Sebelum sakit   : Pasien makan 3x sehari dengan menu: nasi, sayur, ikan dan buah dan minum air putih 7-8 gelas/ hari.
           Saat dikaji        : Pasien makan makanan bubur yang diberikan dari rumah sakit, porsi dihabiskan dan minum air putih.
3)   Eliminasi
           Sebelum sakit   : BAB : frekwensi 1-2 kali sehari
                                       BAK : frekwensi 5-6 kali sehari
           Saat dikaji        :  BAB : frekwensi 1 kali sehari
                                       BAK : frekwensi 4-5 kali sehari
4)   Pergerakan
            Sebelum sakit   :  Pasien dapat melaksanakan aktivitas di rumah sendiri sebagai ibu rumah tangga misalnya menyapu, memasak, dan lain-lain
           Saat dikaji        : Aktivitas pasien terbatas oleh karena nyeri pada luka operasi, nyeri terasa ditusuk-tusuk apabila pasien mengejan unutk BAB dan batuk, dan menghilang saat pasien berbaring. Aktivitas pasien di bantu oleh perawat dan keluarga dengan skor sebagai berikut; mandi: 2, berpakaian/berdandan: 2, mobilisasi di tempat tidur: 1, ambulasi: 2, dengan keterang untuk skor tersebut sebagau berikut: 0= mandiri, 1= dibantu sebagian, 2= perlu bantuan orang lain, 3= perlu bantuan orang lain dan alat, 4= tergantung atau tidak mampu.
5)     Istirahat dan tidur
           Sebelum sakit  : Pasien tidur siang : 15.00-16.00 WITA, tidur malam: 21.00-06.00 WITA
            Saat dikaji        :  Pasien tidak mengalami kesulitan untuk tidur.

6)     Memilih, menggunakan dan melepaskan pakaian
      Sebelum sakit   :  Pasien dapat memilih, mengenakan dan melepaskan pakaian sendiri.
      Saat dikaji        :  Pasien dibantu oleh perawat dan keluarga dalam menggunakan dan melepaskan pakaian.
7)     Kebersihan dan kesegaran tubuh
      Sebelum sakit   : Pasien mandi 2 kali sehari, menggunakan sabun mandi, keramas 2-3 kali menggunakan shampoo, sikat gigi 2 kali sehari memakai pasta gigi.
      Saat dikaji        : Pasien dibersihkan di tempat tidur dengan cara diwaslap, menggunakan haduk kecil.
8)     Mencegah dan menghindar bahaya
      Sebelum sakit   : Pasien bisa mencegah dan menghindari bahaya sendiri.
      Saat dikaji        : Untuk mengurangi rasa nyeri, pasien membatasi gerak dan aktivitasnya.

9)     Beribadah sesuai kepercayaan
      Sebelum sakit   : Pasien rajin mengikuti majelis tahlim.
      Saat dikaji        : Pasien hanya dapat berdoa di tempat tidur
10) Mengerjakan dan melaksanakan sesuatu untuk memenuhi perasaan
      Sebelum sakit   : Pasien dapat mengerjakan pekerjaan di rumah.
      Saat dikaji        :  Pasien hanya terbaring di tempat tidur, tidak dapat bergerak dengan bebas.
11) Komunikasi
      Dalam berkomunikasi baik dengan dokter, perawat dan keluarga, kooperatif serta mau mengungkapkan perasaanya.
12) Suhu tubuh
      Sebelum sakit   : Pasien jarang mengalami peningkatan suhu tubuh.
      Saat dikaji        : Suhu tubuh pasien 36.5 C.
13) Berpartisipasi dalam hal rekreasi
      Sebelum sakit   : Penggunaan waktu senggang dilakukan dengan cara menonton TV bersama keluarga.
      Saat dikaji        : Pasien tidak dapar berekreasi
14) Belajar memuaskan keingintahuan yang mengarah pada perkembangan kesehatan.
      Saat dikaji        :   Pasien bertanya-tanya bagaiman cara meneteki bayi.

D.    Pemeriksaan fisik

1.      Keadaan umum      : baik
2.      Kesadaran              : compos mentis
3.      Tanda-tanda vital   : TD 100/mmHg, N: 80x/mnt, R: 20x/mnt, SB: 36,5° C
4.      TB/BB                   : 144 cm/ 48 kg
Head to toe
a.        Kepala     :    bentuk bulat, rambut hitam, penyebaran merata, tidak rontok, kulit kepala tampak bersih, ekspresi wajah tampak menahan sakit.
b.        Mata        :    bentuk simetris kiri dan kanan, konyuntiva tidak anemis, sklesa tidak ikterus.
c.        Hidung    :    simetris kiri dan kanan tidak ada sekat, nasal soptum terletak di tengah.
d.       Telinga     :    simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, pendengaran baik.
e.        Mulut/gigi   : bibir kering, gusi warna merah muda, gigi idak ada caries, tidak ada perdarahan.
f.         Leher           : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening.
g.        Payudara     : hyperpigmentasi areola mamae, puting susu menonjol ada pengeluaran ASI.
h.      Abdoman
Inspeksi      :  luka post sectio caesarea panjang +/- 10 cm bentuk luka insisi linea medial inferior di jahit dengan cat gut. Tanda-tanda REEDA
   - Red    : tidak ada kemerahan
   - Edema : tidak ada pembengkakan
   - Ekimosis : tidak ada kebiruan
               - Drainase : tidak ada pengeluaran cairan/pus
                                         - Approximaxion : luka jahitan rapat
Palpasi        :  Terdapat nyeri tekan pada daerah perut (region umbilicalis), dengan skala nyeri : 5 sedang yang terurai sebagai berikut
                             Tangisan
                                         Tidak menangis           : 0
                             Gerakan
                                         Tidak melakukan gerakan yang negatif          : 0
                             Rangsangan emosi
                                         Ringan                         : 1
                             Postur tubuh
                                         Meletakkan tangan di daerah luka                  : 2
                             Mengeluh nyeri
                                                Dapat melokalisasi daerah nyeri                     : 2
                     TFU: pertengahan sympisis-pusat.
                     Auskultasi : peristaltik usus normal
Perkusi     : –
i.          Genetalia
Lochia          :   tampak warna kuning bercampur sedikit darah dan lendir (sanguinolenta)
Kebersihan   :   baik
Anus             :   tidak ada hemoroid
j.          Ekramitas
Atas          : dapat digerakkan tidak ada masalah
Bawah    : kaki simetris kiri dan kanan, tidak ada odema, tidak ada varices

E.      Pemeriksaan penunjang

a.       Pemeriksaan laboratorium tanggal 28/7/2013
Jenis
Hasil
Nilai ujian
HB
11.7 gr %
12-16 gr %
Leukosit
8400/mm3
4000-10000/mm3
Trombosit
156 10/L
150-450 10/L

b.      Pemeriksaan USG tanggal 28/7/2013
             Kesan janin intra uterin tunggal hidup letak kepala aterm

F.        Theraphy tanggal 28/7/2013
       Cefadoxil 3x1
       Metronidasol tab 3x1
       Sf  1x1
       Diet TKTP
       Rawat luka

G.       Pegelompokan data

1)    Data subjektif
-           Ibu mengatakan nyeri pada luka operasi
-           Ibu mengatakan tidak bisa bebas bergerak
-           Ibu megatakan masih kaku/canggung dalam meneteki bayi

2)    Data objektif
-        Ekspresi wajah tampak menahan sakit
-        Terdapat luka operasi sectio caesarea di abdomen +/- 10 cm ditutupi gaas
-          Terdapat nyeri pada daerah abdomen (region umbilicalis) dengan skala nyeri : 5 sedang yang terurai sebagai berikut:
                             Tangisan
                                         Tidak menangis           : 0
                             Gerakan
                                         Tidak melakukan gerakan yang negatif          : 0
                              Rangsangan emosi
                                         Ringan                         : 1
                             Postur tubuh
                                         Meletakkan tangan di daerah luka                  : 2
                             Mengeluh nyeri
                                                Dapat melokalisasi daerah nyeri                     : 2
-          Aktivitas dibantu perawat dan keluarga dengan skor sebagai berikut; mandi: 2, berpakaian/berdandan: 2, mobilisasi di tempat tidur: 1, ambulasi: 2, dengan keterang untuk skor tersebut sebagau berikut: 0= mandiri, 1= dibantu sebagian, 2= perlu bantuan orang lain, 3= perlu bantuan orang lain dan alat, 4= tergantung atau tidak mampu.
-        Cara meneteki bayi yang salah bayi diletakkan di atas bantal dan badan ibu membungkuk untuk meneteki
-        TTV TD 100/70 mmHg, N: 80/mnt, R:20x/mnt, SB: 36,5 C.






H.       Analisa data
No.
Data
Etiologi

Masalah

1.
DS  : Ibu mengeluh nyeri pada luka
DO :
-            Ekspresi wajah tampak menahan sakit
-           Terdapat luka post operasi hari ke-3 diabdomen, panjang luka + 10 cm ditutup gaas
-          Terdapat nyeri pada daerah abdomen (region umbilicalis) dengan skala nyeri: 5 sedang yang terurai sebagai berikut Tangisan; Tidak menangis: 0, Gerakan; Tidak melakukan gerakan yang negatif: 0, Rangsangan emosi; Ringan: 1, Postur tubuh; Meletakkan tangan di daerah luka: 2, Mengeluh nyeri; Dapat melokalisasi daerah nyeri: 2
-        TTV: TD100/70 mmhg, N: 80x/mnt, R: 20 x/mnt, SB 36.5

Luka operasi
ß
Terputusnya kontinuitas jaringan
ß
Menstimuli saraf-saraf perifer, menghantar impuls ke otak bagian hipotalamus
ß
Nyeri dipersepsikan

Nyeri
2.
Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan adanya luka operasi
DS  :  Ibu mengeluh/ mengatakan tidak bisa bergerak dengan bebas
DO : 
-         Terdapat luka operasi sepanjang + 10 cm ditutupi dengan gaas
-          Aktivitas dibantu perawat dan keluarga dengan skor sebagai berikut; mandi: 2, berpakaian/berdandan: 2, mobilisasi di tempat tidur: 1, ambulasi: 2, dengan keterang untuk skor tersebut sebagau berikut: 0= mandiri, 1= dibantu sebagian, 2= perlu bantuan orang lain, 3= perlu bantuan orang lain dan alat, 4= tergantung atau tidak mampu.
Tindakan pembedahan
ß
Adanya luka operasi
ß
Kelemahan fisik
ß
Keterbatsan aktifitas
Keterbatasan aktivitas
3.
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang langkah-langkah/ teknik pemberian ASI yang benar yang ditandai dengan :
DS  : 
-          Ibu mengatakan masih kaku dalam meneteki bayi
DO : 
-          Badan ibu membungkuk, bayi diletakkan di atas bantal
Peran baru sebagai ibu
ß
Kurangnya informasi tentang teknik/ langkah-langkah pemberian ASI yang benar
ß
Kurangnya pengetahuan
Kurang pengetahuan


I.       Prioritas Masalah

1.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2.      Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan adanya luka operasi
3.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang teknik/langkah-langkah pemberian ASI yang benar







ASUHAN KEPERAWATAN

No.

Diagnosa Keperawatan
Tujuan/
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasionalisasi
Implementasi
Evaluasi
1.
Nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi  yang ditandai dengan :
DS :  Pasien mengeluh nyeri pada luka
DO   :  -           Eksprei wajah tampak menahan sakit nyeri.
         -  Nyeri tekan pada daerah luka operasi
         -  Terdapat luka operasi, panjang + 10 cm tertutup gaas
         -  TTV TD100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, R: 20 x/mnt, SB 36,5°C
Nyeri berkurang/ hilang setelah diberikan tindakan keperawatan selama 2 hari  dengan kriteria hasil :
     Pasien tidak mengeluh nyeri
     Luka tampak kering
     Ekspresi wajah tampak tenang
     TTV dalam batas normal
TD : 100/70 mmHg, N : 80 x/m, R : 20 x/m, SB : 36,5°C
1.      Ajarkan teknik pengalihan perhatian
2.      Mengukur TTV


3. Rawat luka post operasi hari III
1.   Dapat mengalihkan perhatian pasien terhadap nyeri sehingga nyeri dapat ditoleransi
2.   Dengan mengukur TTV dapat mengetahui keadaan umum pasien dan dapat menentukan tindakan yang tepat
3.      Perawatan luka yang baik dapat mempercepat proses penyembuhan sehingga nyeri dapat berangsur-angsur hilang.
Tgl. 1-8-2013 
 Jam 09.00
1.    Mengajarkan teknik pengalihan perhatian yaitu menghirup napas panjang dari hidung tahan 1-2 detik kemudian hembus melalui mulut di lakukan 1-3 kali.
Jam 09.10
2.  Mengukur TTV TD 100/70 mmhg, N : 80 x/mnt, R: 20 x/mnt, SB: 36,5°C.
Jam 09.30
3.  Merawat luka operasi dengan teknik steril dengan memakai betadin dan luka tampak kering, tidak ada kemerataan, tidak ada pembengkakan tampak jahitan rapat.
1 Agustus 2013
Jam 16.30
S  :  Pasien mengatakn nyeri masih biasa.
O   :  -  Ekspresi wajah tampak sedikit rileks
        -  TTV dalam batas normal  TD 100/70 mmhg, N : 80 x/mnt, R: 20 x/mnt, SB: 36,5°C.
        -  Luka post sectio sepanjang 10 cm terawat baik
        -  Nyeri tekan di daerah luka operasi
A  :  Masalah teratasi sebagian
P   :  Lanjutkan intervensi 1,3,4
2.
Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan prosedur pengobatan dan perawatan ditandai dengan:
DS :  Ibu mengeluh tidak dapat bergerak dengan bebas.
DO   :  -                 Terdapat luka operasi epanjang + 10 cm ditutupi gaas
         -  Aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga
Kebutuhan aktivitas terpenuhi setelah di berikan tindakan selama 3 hari dengan kriteria hasil:
–   Pasien dapat bergerak dengan bebas
–   ADL dapat dilakukan secara mandiri
1.                   Bantu pasien dalam melakukan perawatan diri seperti mandi, dan berpakaian.
2.      Anjurkan kepada keluarga unutk membantu pasien dalam beraktivitas.     



1.  Dapat membantu dalam memenuhi sebagian kebutuhan dasar pasien dan meningkatkan hubungan terapeutik antara perawat dan pasien

2.  Agar kebutuhan pasien terpenuhi serta dapat membantu dalam proses penyembuhan
Tgl 1-8 2013   
 Jam 11.00
1.      Membantu pasien mandi dan berpakaian

jam 11.20
2.  Menganjurkan pada keluarga untuk membantu pasien dalam beraktivitas dengan hasil keluarga mau membantunya, dan pasien mau melakukan sendiri/secara mandiri.
S :  Pasien mengatakan belum bisa beraktivitas sendiri
O   :  Aktifitas dibantu oleh perawat dan keluarga
A   :  Masalah teratasi sebagian
P :  Lanjutkan intervensi
3.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang langkah-langkah/ teknik pemberian ASI yang benar ditandai dengan :
DS :  Ibu mengatakan masih kaku dalam meneteki bayi
DO   :                   Badan ibu membungkuk, bayi diletakkan di atas bantal  

Ibu dapat meneteki bayinya dengan cara yang benar dan dalam posisi yang benar dan tidak kaku dengan kriteria hasil.
DS  :  Ibu mengatakan sudah tahu cara meneteki yang benar
DO  :
-          Meneteki dengan posisi duduk dengan menggendong bayi yang benar

1.Mengajarkan teknik menyusui yang benar (pendidikan kesehatan)
1.  Agar dapat menentukan berhasilnya menyusui bayi.
Tgl. 1-8-2013   Jam 12.00
1.  Mengajarkan teknik/ langkah-langkah dan menyusui yang benar

Jam 18.30
S :  Pasien mengatakan masih kaku dalam meneteki bayi
O   :  -  Teknik menyusui belum benar
      -  Bayi belum tampak menghisap kuat
A   :  Masalah belum teratasi
P :  Lanjutkan intervensi 1


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar